Selasa, 12 Januari 2010

Elven Creature in Deep Java

Finally I found it! Setelah satu tahun menjelajah hutan dan mempelajari mitologi masyarakat Selo, Gunung Merapi-Merbabu, Jawa Tengah, aku tanpa sengaja temukan formasi Orchis-Human –dan terutama sekali Elf.

Selama ini aku tertipu dengan jenis kesenian penduduk berupa tari dengan memainkan figure-figure raksasa (jawa: buto) sama sekali aku tidak menghubungkannya dengan ras Orc. Karena apa, karena aku tidak pernah melihat figure elf nya. Tapi seolah Mother Nature memanggilku, kedekatanku dengan hutan yang diselimuti kabut, gelap dan sangat dingin membawa pada suatu perasaan “Ada apa didalam sana?”

Ya ternyata benar, ada sesuatu didalam sana, ketika kabut turun diantara pohon pohin pinus ada ras Elf yang mengawasiku dengan kecurigaan mereka, bersembunyi. Penduduk setempat menyebut mereka “gadungan” yang artinya palsu. Bahkan orang jawa jarang-jarang mengenal mahkluk ini.

Dari cerita penduduk, mahluk ini dicirikan sebagai berikut:
  • Setinggi anak kecil tapi ada yang berwajah tua.
  • Tidak memiliki tungkai kaki.
  • Suka bernyanyi dengan suara lirih tidak jelas lagunya atau cuma besenandung.
  • Bersembunyi di semak semak, terlihat sekilas cuma bayangan-bayangan berkelebat.
  • Mereka adalah makhluk gaib tapi bukan golongan hantu .
  • Mampu menghilang (invisible) bila dikejar.
  • Mereka mengumpulkan ranting dahan yang kecil, mematah-matahkannya menjadi kecil.
  • Mereka turun dari hutan di gunung di antara pinus waktu kabut turun, kabut yang tidak biasa yang meluncur dengan pelan seperti kabut yang mencurigakan.
  • Mereka muncul bersamaan dengan munculnya burung entah apa namanya dengan bunyi siulan yang monoton cenderung memilukan atau membuat susana sepi dan membuat tertidur.
  • Suasana kedatangan mahkluk ini bisa dirasakan penduduk ketika sepi tiba-tiba menyelimuti hati dan suasana seperti waktu berjalan sangat lambat (jawa:nglanggut).
  • Makhluk ini tidak menyerang tetapi mungkin membuai manusia di dalam hutan dan menjebaknya dalam dingin sehingga kedinginan tidak bisa bergerak (jawa: dengkelen).
Suasana kedatangan “gadungan” pernah aku rasakan waktu berada dipinggir hutan di bawah bukit. Kami beberapa orang terdiam karena ada kabut aneh turun di bukit disebelah kami. Semua memandang ke dalam gelapnya hutan dan tiba-tiba waktu berjalan begitu lambat, sampai salah satu membangunkan kami “Ada gadungan turun!” . Sebuah pertanyaan kenapa banyak penduduk lokal mati di dalam hutan karena cuaca dingin, padahal mereka sudah terbiasa dengan udara dingin. Beberapa orang baru seperti aku sering ditemukan duduk di hutan menangis dalam kesepian terjebak oleh kabut dan cuaca dingin. Maka jika kamu disini tetaplah berjalan bila merasa di semak-semak ada sesuatu waktu kabut turun.







,

Tidak ada komentar: